Showing posts with label stories. Show all posts
Showing posts with label stories. Show all posts

Sunday, April 12

another class thingy


ya ampun emang ga ada ide bih mau posting apa haha.
sebenernya udah pernah posting ini sih di tumblr wakakak.
ini gambar apa hayo? ada yang ngerti?
hahah, ceritanya ini karikatur anak sekelas.
we call our class KITKAT! stands for KOMUNITAS IMUT ANAK IPA EMPAT.
beuh, najong banget dah hehe
oiya btw, ini yang nggambar namanya windy, dia anaknya emo emo gitu deh tapi ga emo deng. biasa aja. gambarnya aja yang begini.
ceritanya waktu itu kita lagi sibuk ngurusin yearbook.
eh windy nggambar ini.
dipasang deh akhirnya hehe.
kalo liat ini, bawaannya seneng campur sedih.
seneng soalnya, they such a greatest classmates i ever have. KITKAT ga ada matinye!
sedih soalnya, bentar lagi pisaaaah. argh tidak
coba ya ada universitas khusus yang nampung anak2 kitkat setelah lulus sma. hmm.
it willbe very wonderful. haha

udah ah, mau belajar kimia dulu.
haha.
ceritanya tobat nih, piss ah

but comon im useless
build it up, tear it down, turn around, oh comon!
love, ICHA

Sunday, March 8

ketika kimia berceritaaaa

~ lagi pengen nge-post cerita yang aku buat gara2 pelajaran kimia
hehe, anak ipa empat pasti tau deeh nama2 yang disamarkan di sini haha
just enjoy if you want =)

***

“Ros…Ros…Rosa!”
Yang dipanggil namanya masih merem, hanya menggerakkan badannya sedikit.

“Rosa! Bangun dong! Pak Iman udah di depan pintu, tuh!”

Eh…yang namanya Rosa masih belum bangun juga. Mulutnya terbuka, pula! Dimasukin lalat baru tahu rasa dia!

Ngung…ngung…ngung… Hap!
“Uhuk…uhuk…hueks!” Rosa terbangun dan memuntahkan sesuatu ke mejanya.
“Kupret, lo!” hardik Rosa.
“Ros, Pak Im…” perkataan teman sebangkunya pun terpotong.
“ROSA! KAMU TERIAK SAMA SIAPA? APA BENAR, KAMU BILANG SAYA KUPRET?” suara menggelegar Pak Iman kayaknya terdengar sampai ke seluruh penjuru sekolah. Terang aja, Rosa jadi gelagapan.
“Anu…Pak. Bukan ke Bapak, kok,”
“GA ADA ALASAN. KAMU SAYA SETRAP DI LAPANGAN,”
Rosa terdiam.
“SEKARANG, ROSA!” Rosa masih saja diam.

“ROSAAA…”

Gedubrak!!

Rosa jatuh dari kursi belajarnya. “Masyoloh, aku ketiduran!”

Olala… ternyata si Rosa ketiduran. Padahal dia lagi belajar kimia buat ulangan esok harinya. Pantas saja, dia memimpikan guru kimianya, Pak Iman. Guru kimianya tersebut memang agak streng. Tipikal guru IPA, deh… Jelas aja Rosa ketar-ketir kalo Kimia mau ulangan. Dari dulu, nilai ulangan kimianya selalu pas-pasan walaupun sudah belajar mati-matian. Apalagi dia memang tidak begitu paham sama yang namanya chemistry. Kalo sama My Chemical Romance, baru dia ngeh.

Dan, ketika Rosa melihat jam mungil di meja belajarnya. Jam tersebut sudah menunjukkan pukul lima pagi.

“Tuhan…udah jam lima. Tadi malem kan, aku belon belajar. Gimana, nih?”

Walhasil, Rosa grusak-grusuk belajar kimia. Dia membuka lembaran demi lembaran buku kimia yang tebalnya 210 halaman itu. Ehm…ga cuma dibuka sih, Rosa juga mengerjakan semua latihan yang ada.

buffer…

hidrolisis…

asam kuat…

basa kuat…

asam lemah…

basa lemah…

“Dasar otak dudul! Bego amat sih, gue?” ratap Rosa.

Seperti yang Rosa bilang, -dasar otaknya dudul- walaupun sudah mengerjakan semua latihan yang ada, tetap saja Rosa kagak mudeng-mudeng. Ditambah keadaan dia yang lagi panic, mana bisa apa yang dipelajarinya masuk ke otak?

“Rosa…udah jam enam! Kamu sekolah, kan?” tanya ibunya dari luar kamar.

“Hah? Jam enam? Iya-iya, Rosa sekolah!!” jawab Rosa asal. Padahal, njadwal pelajaran aja belum,mandi belum, sarapan belum, eh...sholat subuh juga belum! (FYI, akhirnya Rosa sholat subuh jam 06.10, subuhan apa sholat dhuha, mba?)

Akhirnya…

Setelah melewati masa-masa panjang di WC *lho?* (iya…waktu mau mandi, air di baknya Rosa kosong. So..dia harus nunggu dulu) dan sarapan super-kilat, plus ngebut pake angkot (ye…itu supirnya yang ngebut!) Rosa pun sampai di sekolah jam 06.58. Mepet, banget.

“Rosa, kenapa tu muka?” tanya Ryan,teman sebangku Rosa.

“Haduh, Yan… Hari ini gue sial banget!”

“Hah? Kenapa, Ros?”

“Kenapa?”

“Iya, kenapa?”

“Lo ngerti gue kan? Hari ini ulangan kimia, dodol! Dan gue baru belajar satu jam tadi pagi!” repet Rosa.

“Oo…ulangan kimia? Alah, santai, Ros!”

“Santai?”

“Yoi. Tadi si Asep bilang kalo Pak Iman ga bias masuk kelas kita. Dia kan ndampingin Anggie olympiade kimia di Semarang.” “Serius?”

“Ngapain gue bo’ong? Liat aja, anak-anak sekelas juga ga ada yang belajar,”

“Wah…”

Rosa pun bersuka cita.
Begitu pula dengan teman-teman sekelasnya.
Dia lega ga jadi ulangan. Belajar cuma satu jam ga mungkin ga remidi.

15 menit berlalu…
Di tengah kebahagiaan para siswa XI IPA 4, tiba-tiba sesosok manusia memasuki ruang kelas.

“Assalamu’alaikum. Maaf bapak telat. Tadinya saya memang berniat untuk mengantar yang ikut olympade, tapi ternyata berangkatnya nanti jam 09.00. daripada ulangannya ditunda, lebih baik kalian siapkan kertas. Kita jadi ulangan sekarang!”

Kelas pun hening seketika.
Seisi kelas pun membatu.
Kalimat terakhir dari penjelasan Pak Iman bagai kata-kata terakhir yang ingin mereka dengar di dunia ini.

“Mungkin ada yang mau bertanya dulu?” Pak Iman menawari.

“Saya, Pak,”

“Ya, Rosa?”


“Remidinya kapan, Pak?”


~n.b : sedikit banyak ini kisah nyata haha, cuma dilebay2in sedikit hmm piss!

love, ICHA

Friday, March 6

josh farro ngefans ama ariel peterpan!

bukan bukan, itu becanda kok! masa iya josh farro paramore yang KEREN SEKALI itu ngefans ama ARIEL PETERPAN? josh malah kayaknya ga tau ada manusia bernama ariel. ahha. alasan kenapa judul postingan ini begitu adalaaaah: potongan rambutnya ariel sekarang hampir mirip sama josh!

liat foto ini, terussss liat yang di bawah ini

ahhh, sungguh ini dua orang yang berbedaaaa!

dari deket sih emang beda, tapi kalo dari jauh, ewww, mirip coy!
apalagi waktu di iklan sunsilk!
ah, aku ketawa tiwi aja liatnya. sebenernya sih yang pertama kali nyadar bukan aku, tapi si putri (istrinya zac farro, haha) waktu aku liat pertama kali potongan rambutnya ariel emang kerasa mirip seseorang, aduh tapi siapa yaaa?
eh si putri yang menyadarkanku kalo si ariel mirip josh-pas video thats what you get- (rambutnya doang deng haha)
trus kita berdua koar2 gitu ke seantero sekolah (ga seantero juga sih, yang suka, eh, tau paramore di sekolah cuma dikit!) nyuruh anak2 liat iklan sunsilk haha.
mereka geleng2 gitu doang menyangka kami kena syndrom diseleksia (apaan gitu cha?)
tapi lumayan banyak yang bilang kok kalo rambutnya mirip (apa emang anak2 sini rabun mata?)
tapi sayang sekarang model rambutnya josh udah ga gitu lagi.
hahaha.

eh ya udah deh daripada ntar aku ngelantur ga jelas haha.
eh sebelumnya, pengen ngepost sesuatu lagi nih... tadinya aku pikir coretan ga jelas ga bermakana, eh tapi kayaknya buat orang 'tertentu' mungkin pas, mungkin ga juga. ah ga tau deh...
ga jelas

i know its all about my mistakes

but we had passed it anyway

i cant stand to be blamed by you

i just wanna say sorry


dont you remember, i am the one who love you

when all the day and night

people started to forget you

dont you remember, i am the only who care about you

when everybody left you

i am still standing besides you


ih tapi setelah dipikir pikir, LEBAY deh hahaha

love, ICHA

Saturday, February 21

THE HIGH HOPING

~heyhooo, lagi pengen iseng nih posting cerpen yang waktu itu aku buat gara2 desperate ga bisa liat panic at the disco LIVE. hehe. oiya, aslinya ni cerpen lumayan panjang tapi karena kayaknya malesin kalo kepanjangan ya udah deh, cut sana sini. hehe.

Rachel. emang sih namanya kaya bule, padahal dia orang indon sini aja. Hal yang paling penting dalam hidupnya itu sekarang the high hoping, dan gara2 the high hoping, dia sekarang jadi deket dengan orang bernama 'no name'. awalnya sih, karena dia sering banget masuk dan ngekomen myspace ‘the high hoping’. Nah, di sana kan banyak bule tuuh, dia iseng aja nge-add-in semuanya satu-satu. Dan ada yang namanya ‘no name’, tapi dia gak bisa di-add. Harus pake last name atau email. ‘Ah, ribet’ gitu kata Rachel. Tapi entah beberapa minggu setelahnya, Rachel malah di-add sama si ‘no name’ itu. Dan mereka pun komen-komenan. Rachel jadi tau kalo dia juga fans beratnya ‘the high hoping’ dan ternyata si ‘no name’ itu tinggal di Sydney. Kota asalnya ‘the high hoping’. Makanya dia sering liat ‘the high hoping’ konser di sana. Bahkan sekarang Rachel sama si ‘no name’ udah tukeran alamat msn. Jadi deh mereka berdua suka ngobrol di messenger itu.

***

Mrs. McMadden : heeeei
Highopers Boy : wassup, Rach?
[ceritanya Rachel sama ‘no name’ lagi main msn. Tau sendiri lah, rachel yang mana, si ‘no name’ yang mana, padahal besok Rachel ada ulangan kimia, ehh, dia malah online malem-malem gini.]
Highopers Boy : not sleepy?
Mrs. McMadden : eh, nope.just get bored.hbu?
Highopers Boy : same here.any news?
Mrs. McMadden : im the one who could ask you.you live in the same town with them x]
Highopers Boy : ah ya,lol.but I think theres no news,
Mrs. McMadden : btw,I rly curious bout ur real name.lol
Highopers Boy : rly?
Highopers Boy : if u you want to,just call me..ed.
Mrs. McMadden : ed?
Mrs. McMadden : just ed?
Highopers Boy : mhm,ya.why?
Mrs. McMadden : nope,its okay.lol.
Highopers Boy : haha,its better than Mrs.McMadden
Highopers Boy : lol
Mrs. McMadden : lol.you jealous with me.lol.you wannabe mr.mcmadden too?
Highopers Boy : yes.hha.
Mrs. McMadden : gezz,are you a homo?
Highopers Boy : ofcorz no.im deff straight!
Mrs. McMadden : lol,I ever heard that ryan is a homo.
Mrs. McMadden : hes dating james,the vocalist.
Highopers Boy : rly?
Highopers Boy : so why you still crazy bout him?
Mrs. McMadden : bcz I believe its a lie :)
Highopers Boy : I think so.besides,james has a gf.
Mrs. McMadden : ah,rly?i never heard that.
Mrs. McMadden : where you get the info?
Mrs. McMadden : whos she?
Highopers Boy : ehh
Highopers Boy : idk,I forgot.lol.
[mereka ngobrol mulu soal ‘the high hoping’ semalem suntuk]

***

“Najis banget ah, masa dapet segini?” Rachel menggerutu di mejanya saat (akhirnya setelah sekian lama) menerima hasil ulangan kimianya.
“Where all the miracles going? I am waiting for the miracle but God never give me. Am I didn’t worth for it? Or does God give me but someone has steal my miracle?Hoo-uohhh…”
“Ra, berisik lo ah, dapet nile jelek masi pake nyanyi segala !” Andien protes.
“Ah, emang tu lagunya high hoping pas banget jadi soundtrack gue hari ini,” Rachel melengos.
“Emang lo dapet berapa?” Andien ngintip hasil ulangan Rachel. Rachel menutupi kertasnya tapi emang dasar mata Andien yang cukup lihai, Andien berhasil ngeliat.
“Ah, lima sembilan ya!” Andien teriak-teriak.
“Dodol! Ga usah pake teriak segala!” Soalnya meja mereka jadi pusat perhatian sekarang.

Malamnya, Rachel dapat kabar gembira. Kata ed (remember? The ‘no name’ boy?) the high hoping katanya dapet tawaran manggung di denpasar, bali.
Mrs. McMadden : hah,so they will be here,in indonesia?
Mrs. McMadden : *faints
Highopers Boy : yyaa!next month
Highopers Boy : its good for you,you can watch them live now!
Mrs. McMadden : ah,idk,I’ll ask my dad permission
Mrs. McMadden : but im not sure he’ll give his permission :(
Highopers Boy : huh?why?
Mrs. McMadden : nope
Highopers Boy : just tell me
Mrs. McMadden : my mark is getting bad now
Mrs. McMadden : I just got my chemistry exam result,and its HORRIBLE
Highopers Boy : mhm,but its your big chance to meet them,in person!
Mrs. McMadden : in person?
Highopers Boy : I heard they will be have performance at a bar/café.idk.
Highopers Boy : it means,its kinda private.isnt like on usual concert that crowded
Mrs. McMadden : you make me hopeless
Mrs. McMadden : im sure my dad wont permitt me.its a bar!my dad forbid me go there
Mrs. McMadden : and im sure the ticket is expensive
Highopers Boy : oh,idk that problem
Highopers Boy : mhm,mayb about 20bucks.
Mrs. McMadden : ah,its rather expensive,besides,its on bali!jakarta is far enough from there
Mrs. McMadden : im hopeless now x[
Highopers Boy : im sorry to hear that
Highopers Boy : I thought you will be very happy if you know this
Mrs. McMadden : nah,its okay
Mrs. McMadden : I’ll try to ask my dad permission
Highopers Boy : gutluck!

***

Besoknya, dengan mengumpulkan keberanian, Rachel mendekati papanya, “Pah,aku boleh ke Bali ga?”
Papanya cuma melirik, “Kapan?”
“Ya kira-kira bulan depan lah,” Rachel deg-degan gak karuan.
“Sama mamah?”
“Ehh, sama temen,”
“Sama temen? Ngapain ke Bali? Jauh amat?”
‘Aduh, ga bener nih, kayaknya ga bakal diijinin sama papa. Bohong aja gak ya?’
“Iya, ngapain Ra?” mama nimbrung sekarang.
‘bohong…enggak…bohong…enggak…bohong…eng…’
“Ehh, mau…” Rachel ragu-ragu, “mau nonton konser,” Rachel ketakutan sampai menutup matanya. Lagian dia nekat juga sih, padahal kemarin baru dimarahin gara-gara dapet nilai ulangan jelek, eh, sekarang malah minta yang gak-gak.
“Ga boleh,” mamanya yang menjawab.
“Ga penting nonton konser kaya gitu. Ke bali pula, ngabisin uang aja. Lagian bulan depannya lagi kamu ada mid-semester kan? Nilai ulangan harian kemarin kamu aja jelek banget! Mau gimana?” mama menjelaskan panjang-lebar.
“Tapi kan Ma, aku …”
“Ga usah lah, Ra. Mending duitnya disimpen. Papa yakin pasti mahal. Berapa coba?”
“Ga kok… cuma, 20 dolar,”
“20 dolar bukan cuma Ra, lagian pikirin juga ntar kamu ke Bali pake apa, di sana gimana?”
Rachel cuma diem. Dan kepengen nangis.

***

Highopers Boy : heei,rach
Highopers Boy : wassup?
Mrs. McMadden : hei,ed.
Highopers Boy : so how bout your dad?
Mrs. McMadden : hah?
Highopers Boy : he permitts you?to see high hoping?
Mrs. McMadden : ahh,noo!
Highopers Boy : rly?
Mrs. McMadden has signed out and left the conversation.
Highopers Boy : Rachel?

***

Seminggu sebelum the high hoping ke Bali…
“Hah, serius gitu Ra?”
“Dia mau ke sini?” Andien histeris.
“Iya. Gue juga kaget waktu dia ngomong kaya gitu,” Rachel nyeruput es jeruknya.
“Emang gimana? Ceritain yang detil dong…”
“Ah, bawel. Intinya, dia merasa bersalah sama gue, gara-gara ngasih tau high hoping mau manggung di Bali, padahal gue gak bisa nonton, jadi dia mau ke sini, ke jakarta, nemuin gue,”
“Ngapain merasa bersalah?”
“Gak ngerti, Ndien,”
“Nah, itu band indie kesukaan lo itu, kenapa ke Bali sih? Ga ke sini aja? Biasanya juga band-band nagri kalo konser ke sini?”
“Jiah, kan mereka indie, yang suka cuma beberapa. Mereka manggung di Balinya aja katanya di bar kenalan si vokalisnya,”
“Ohh.. jadi mereka ga bisa ke sini?”
“Hmmm,” Rachel menggumam.
Jadi sedih juga. Padahal Rachel udah rela dan terima kalo dia gak nonton dan berusaha ngelupain. Eh, sekarang dia malah di sini bareng Andien, mbahas masalah itu lagi.
“Terus, dia mau ke sini kapan?”
“Ed? Katanya sabtu minggu depan,”
“Berarti lo satnite sama dia dong?” Andien menggoda.
“Uh-haha. Bahkan sampe sekarang gue belum paham mukanya kayak apa,” Rachel ketawa.
“Gue doain cakep deh,” Andien mengedipkan matanya.

***

Kamis, 17 Oktober 2008
21.00 WIB
“Hah, Ya Tuhan. Gue dilemaaaa!”
Rachel teriak-teriak sendirian di kamar, secara, sekarang ini nih The High Hoping udah ada di Denpasar, mungkin udah naik panggung. Atau bahkan udah perkenalan ke visitor bar ‘Gradien’ di sana.
“Ahhh, Ryan! James! Michael! Josh! Haaa, gue pengen liat kalian.. LIVE!”
Rachel kaya orang gila aja, teriak-teriak kaya gitu.
Dan dia gak bisa tidur sampai jam tiga pagi.

***

“Lo yakin ga mau gue temenin?” Andien bicara di telpon. Hari ini hari Sabtu, hari di mana Ed, si cowok ‘no name’ katanya mau nemuin Rachel.
“Ga usah, masa iya Ed orang brandal?” Rachel sedang bersiap menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di sana dia janjian ketemu sama Ed, “Lagian cuma bentaran, Ndien,” Rachel memakai baju hijau bertuliskan HIGH HOPING THING, dia janjian sama Ed pake baju hijau, “Kan gue sama sopir juga,” Rachel melihat jamnya.
“Emang lo udah tau mukanya kaya gimana?”
“Gak. Kita janjian pake bajunya high hoping, terus… udah, katanya dia udah hapal sama muka gue,”
“Ra, lo gampang banget percaya orang, ntar lo kenapa-kenapa gimana?”
“Tenang aja, Ndien, gue bisa jaga diri,” Rachel melihat jam lagi dan bersiap keluar kamar, “Gue punya feeling baik hari ini. Hehe. Udahan ya, gue berangkat!”

Di bandara…
“Nah, itu… orangnya, eh, iya bukan ya?”
Rachel sudah menunggu kurang lebih sepuluh menit saat dia melihat seseorang memakai kaos hijau bertuliskan ‘high hoping thing’ juga. Emang si, badannya tinggi, kaya bule, tapi dia pake kacamata item, plus topi, jadi mukanya gak gitu keliatan.
“Nah lo, kok temennya banyak banget, gue dikeroyok ni, ceritanya?” alis Rachel mengkerut.
Cowok itu terus mendekat dan Rachel makin deg-degan [maklum, mau ketemu bule] dan saat si cowok-berbaju-hijau-berkacamata-bertopi-itu sampai ke hadapan Rachel, Rachel mau menjerit.
“Ry….Ryan?”
“Hai, Rachel?” Dia melepas kacamata dan topinya, “Yes, its me, Ryan, or you know better, Ed,” Ryan Dexter McMadden, gitaris The High Hoping, tersenyum pada Rachel (yang masih diem karena shock).
“Im bringing the whole band, see, its James, that Josh, and he is Michael,”
Rachel pengen pingsan sekarang, the high hoping ada di depannya langsung nih?
“I am the one who often chat with you, and we are here, because of you, our biggest fan in Indonesia, I think, hehe. We felt sorry you couldnt watch us in Bali so we planned to go here, we all want to meet you, Rachel. Hei, are you okay? You don’t like to see us here?” Ryan bingung melihat Rachel.
“Ahh,ya. Im okay. Oh, guys, Im very happy to meet you all!” Rachel akhirnya bisa balik ke dunia nyata. *emang tadinya dia di mana?
“So, why don’t you hug us?” James mengedipkan matanya.
Rachel tersenyum lebar sekali dan bergabung dengan mereka. Rachel ngerasa ajaib. miracle finally comes!

~noh kan geje cerpennya.
haha.

love, ICHA

 

the wise travesty Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger